JAKARTA (INSERT RAKYAT),– Tidak ada manusia yang benar-benar siap ketika bencana datang mengetuk kehidupan. Dalam satu malam, banjir dapat menenggelamkan halaman rumah yang selama puluhan tahun dibangun dengan jerih payah. Dalam beberapa menit, longsor dapat merobohkan dinding tempat keluarga berlindung. Musibah seperti itu sering membuat manusia terdiam, menyadari betapa rapuhnya bangunan kehidupan di hadapan kekuatan alam. Namun sejarah juga memperlihatkan hal lain, setiap bencana selalu melahirkan ikhtiar baru, menghadirkan tangan-tangan yang saling menolong, dan menggoda masyarakat belajar kembali tentang arti rumah, kebersamaan, serta tanggung jawab untuk bangkit dari reruntuhan, meski tangis dan air mata menjadi episode satu dari semua hal yang telah direnggut bencana “Dahsyat”

Di Sumatera, ujian itu hadir melalui banjir dan longsor yang merusak ribuan rumah warga di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kini, setelah masa darurat berlalu, pekerjaan besar berikutnya dimulai: membangun kembali tempat tinggal bagi para penyintas.

Data terbaru dari Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera menunjukkan gambaran awal proses pemulihan tersebut. Hingga laporan harian tertanggal 13 Maret, 110 unit hunian tetap (huntap) telah selesai dibangun dari total 36.669 unit rumah yang direncanakan untuk para korban yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan berat pada rumah mereka.

BACA JUGA :  Awas! Rekening Siluman di Tengah Bencana, Ketika Laporan Disusun di Rumah, BPK Tak Berkutik dan Publik Kehilangan Kepercayaan!

Selain unit yang telah rampung, 1.359 unit hunian tetap lainnya masih dalam tahap pembangunan. Angka tersebut menunjukkan percepatan dibandingkan laporan sehari sebelumnya, ketika jumlah rumah yang selesai baru mencapai 56 unit. Dalam waktu satu hari, jumlah hunian yang berdiri hampir meningkat dua kali lipat.

Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan perkembangan pembangunan paling besar. Dari target 27.104 unit hunian tetap, sebanyak 104 unit telah selesai dibangun, sementara 388 unit masih dalam tahap pengerjaan.

Di Sumatera Utara, pembangunan masih didominasi proses konstruksi. Dari total target 5.815 unit, sebanyak 524 unit saat ini sedang dibangun. Sementara itu di Sumatera Barat, dari target 3.750 unit hunian, baru 6 unit yang telah selesai, sedangkan 447 unit masih dalam tahap pembangunan.

Jika ditilik dari besarnya angka kebutuhan rumah, pekerjaan rehabilitasi tersebut masih berada pada tahap awal. Namun setiap rumah yang berdiri menjadi penanda bahwa proses pemulihan mulai bergerak, meski perlahan.

Pembangunan hunian tetap ini tidak sepenuhnya bergantung pada satu institusi. Sebagian besar unit yang telah selesai dibangun merupakan hasil kerja sama lintas sektor antara pemerintah dan berbagai organisasi sosial.

BACA JUGA :  Inilah Strategi Tito Karnavian Dalam Percepatan Penanganan Pascabencana Sumatra

Keterlibatan tersebut meliputi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepolisian Republik Indonesia, serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Dukungan juga datang dari berbagai lembaga nonpemerintah seperti Danantara, Yayasan Buddha Tzu Chi, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), pemerintah daerah, hingga bantuan dari masyarakat secara perseorangan.

Selain membangun hunian tetap, pemerintah juga menyalurkan bantuan bagi penyintas yang belum menempati rumah sementara. Bantuan tersebut diberikan melalui program Dana Tunggu Hunian (DTH).

Setiap kepala keluarga penerima mendapatkan bantuan Rp600.000 per bulan selama tiga bulan, sehingga total bantuan yang diterima mencapai Rp1,8 juta.

Menurut data Satgas PRR, penyaluran bantuan ini telah mencapai 100 persen kepada 13.728 penerima di tiga provinsi terdampak. Rinciannya terdiri dari 7.807 penerima di Aceh, 4.162 penerima di Sumatera Utara, dan 1.759 penerima di Sumatera Barat.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago meninjau langsung pembangunan hunian tetap di Kabupaten Aceh Utara. Dalam kunjungan tersebut, pembangunan dipastikan berjalan sesuai rencana.

Distribusi material hingga pelaksanaan konstruksi berlangsung lancar, dimulai dari proses pembongkaran material di Pelabuhan Belawan hingga pengiriman ke Kuala Cangkoy.

BACA JUGA :  PT Kaltim Tingkatkan Tata Kelola Anggaran dengan Penyusunan Baseline 2027

“Alhamdulillah, saya memantau langsung proses pembangunan huntap ini berjalan lancar, mulai dari bongkar material di Pelabuhan Belawan hingga tiba di Kuala Cangkoy dan dikerjakan dengan aman. Saya optimistis seluruh target dapat diselesaikan akhir Maret 2026,” ujar Djamari dalam keterangan resmi Satgas PRR sebagaimana diutarakan oleh Kapuspen Kemendagri Benni Irwan, kepada Insertrakyat.com, Sabtu (14/3/2026) di Jakarta.

Hunian tetap yang dibangun untuk para penyintas dirancang dengan spesifikasi yang lebih tahan terhadap risiko bencana. Dinding dan atap rumah menggunakan baja galvanis yang tahan karat serta memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa.

Rumah juga dibangun dengan sistem knock down, yaitu metode konstruksi cepat yang memungkinkan rumah dirakit secara lebih efisien di lokasi pembangunan. Setiap unit hunian dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti dua kasur, meja makan, kursi, televisi, serta kamar mandi dengan perlengkapan lengkap.

Di tengah angka pembangunan yang masih jauh dari target puluhan ribu unit, satu hal tetap menjadi penyemangat bahwa bagi rumah merupakan tempat memulai kembali kehidupan yang sempat runtuh. Setiap dinding yang berdiri kembali menjadi tanda bahwa manusia tidak pernah berhenti belajar bangkit dari musibah.

(Syam/Agy/Zam).

 Ikuti Berita Insertrakyat.com