Oleh Muhammad Subhan

SAYA membaca tulisan Mas Bambang Prakuso, penggerak Sekolah Literasi LKP-CHC Alfateta Indonesia. Tulisan itu merespons esai saya berjudul “Perpustakaan Jangan Berhenti pada Bimtek dan Penerbitan Buku” yang dibagikan Mas Budi Pramunandi, seorang pengikut halaman Facebook saya.

Esai tersebut, bersama beberapa tulisan saya yang lain, kabarnya kerap dibagikan Mas Budi di Grup Alfateta Indonesia. Saya pribadi tidak tergabung dalam grup itu. Namun, saya tentu merasa senang jika gagasan tersebut tersebar, dibaca, bahkan diperdebatkan.

Dalam ranah literasi, perbedaan pandangan adalah hal lumrah, asalkan berpijak pada argumen yang jernih dan bertujuan memperkaya perspektif.

Saya menyimak dengan saksama tulisan Mas Bambang bertajuk “Penggerak Literasi yang Berada di Persimpangan Jalan”—meski sepenuhnya tidak menyentuh substansi esai yang saya tulis. Di sana, saya menemukan semangat sekaligus kegelisahan yang bisa saya selami.

Sebagai pelatih Reading Mastery, Mas Bambang melihat adanya dua arus besar dalam dunia literasi saat ini. Arus pertama adalah mereka yang bertahan pada literasi konvensional, sementara arus kedua mulai beralih sepenuhnya ke literasi digital. Mas Bambang menulis: “Saya melihat Muhammad Subhan berada di arus pertama—yang masih kuat mempertahankan pola lama.” Dalam pembacaannya, saya ditempatkan pada posisi yang seolah enggan beranjak dari cara-cara konvensional.

Di sinilah saya merasa perlu meluruskan posisi saya di ranah literasi. Saya tidak sedang berdiri di salah satu kutub yang saling berhadapan. Saya memilih untuk berada di titik temu: di tengah.

Pilihan ini saya ambil bukan karena keraguan, namun karena keyakinan bahwa kedua arus tersebut tidak semestinya dipertentangkan secara dikotomis.

Mas Bambang menyatakan: “Di sisi lain, saya juga menyadari, dalam dunia literasi, saya sendiri kadang ‘dimusuhi’. Bukan tanpa alasan. Saya dianggap terlalu ekstrem—terlalu cepat ‘berpindah alam’ dari cara lama ke cara baru.”

BACA JUGA :  Unsulbar dan Karang Taruna Nannas Latih Pemuda Sendana Tangkal Hoaks dan Risiko Digital

Logika “berpindah alam” yang ditabalkan Mas Bambang pada dirinya memang menarik, tetapi sekaligus problematis jika dipandang secara hitam-putih. Seolah-olah, demi menjaga relevansi, kita wajib menanggalkan seluruh warisan lama dan melompat total ke hal baru. Padahal, dalam praktiknya, perubahan kebudayaan tidak pernah berlangsung sesederhana itu.

Literasi bukan sekadar perkara medium—buku cetak atau buku elektronik, perpustakaan fisik atau digital. Literasi adalah urusan kedalaman berpikir, kemampuan memahami, dan ketajaman mencerna. Medium boleh berganti, namun esensi harus tetap terjaga.

Saya tidak sedang meromantisasi masa lalu, pun tidak menutup mata terhadap laju teknologi. Saya meniti karier cukup lama di surat kabar dan dunia jurnalistik. Kini, saya lebih banyak menulis di platform digital serta membagikan gagasan di media sosial. Saya sangat sadar bahwa generasi hari ini hidup dalam pusaran informasi yang serba cepat. Namun, saya juga melihat sesuatu yang sering luput di tengah gegap gempita digital: kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman.

Di sinilah pertanyaan krusial perlu kita ajukan.

Apakah mereka yang bergegas pindah ke ranah digital otomatis menjadi lebih adaptif? Ataukah mereka justru terjebak dalam ilusi adaptasi? Bergerak cepat, namun kehilangan pijakan?

Kita menyaksikan banjir informasi hari ini. Orang membaca lebih banyak, tetapi memahami lebih sedikit. Orang menulis lebih sering, namun jarang merenung lebih dalam. Jika ini yang dianggap sebagai kemajuan, maka kita perlu bertanya kembali: fondasi literasi seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?

Selanjutnya, Mas Bambang berpendapat: “Banyak penggerak literasi mengatakan minat baca rendah. Menurut saya bukan rendah, tapi sudah ditinggalkan bentuk lamanya. Seorang pejabat Perpustakaan Nasional akhirnya mengakui ini dalam sebuah seminar Perpusnas hybrid di Kalimantan. Artinya, ini bukan sekadar opini pribadi saya. Gak mungkin pejabat perpustakaan berbohong.”

BACA JUGA :  Empat Kecakapan Literasi yang Melahirkan Pemimpin Bangsa

Mengenai pendapat bahwa minat baca tidak rendah melainkan mediumnya yang berubah, saya sepakat dalam beberapa hal, namun tetap menyisakan catatan. Benar bahwa cara orang mengonsumsi teks telah berubah, tetapi perubahan medium tidak secara otomatis menjamin kualitas serapan informasi.

Membaca di layar ponsel cenderung menciptakan pola membaca memindai (scanning) yang melompat-lompat. Mata kita dipaksa bergerak cepat di antara godaan notifikasi dan distraksi tautan lain, sehingga otak jarang mendapatkan ruang untuk melakukan kontemplasi mendalam. Berbeda dengan buku fisik yang menawarkan keheningan fokus, literasi digital sering kali hanya menyentuh permukaan. Kita menjadi tahu banyak hal secara sekilas, namun kehilangan kemampuan untuk memahami satu hal secara tuntas.

Inilah risiko dari “literasi instan” yang hanya mengejar kecepatan tanpa memedulikan pengendapan gagasan.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita ingin sekadar mengekor pada perubahan atau justru ikut mengarahkan perubahan itu sendiri?

Pada titik ini, saya memilih menjadi moderat. Moderat bukan berarti bersikap tanggung. Moderat adalah posisi sadar untuk mengambil nilai-nilai luhur dari masa lalu, menyerap hal-hal relevan dari masa kini, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Saya tidak menolak e-book. Saya tidak menolak perpustakaan digital. Keduanya adalah keniscayaan yang harus kita rangkul. Namun, saya keberatan jika buku cetak dianggap usang atau perpustakaan fisik dinilai tak lagi penting. Keduanya memiliki fungsi yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh teknologi.

Buku cetak memberikan pengalaman taktil dan ketenangan yang membantu konsentrasi. Perpustakaan fisik menghadirkan ruang sosial serta perjumpaan manusiawi yang tidak bisa direplikasi oleh layar secanggih apa pun. Sebaliknya, literasi digital menawarkan akses luas dan fleksibilitas yang luar biasa.

BACA JUGA :  Perpustakaan Mafajange Desa Sukamaju Masuk 6 Besar Terbaik se-Sulsel

Jika kita bisa merangkul keduanya, mengapa harus membuang salah satu?

Berikutnya, kata Mas Bambang: “Ini soal bertahan atau tertinggal. Bagi saya, ini bukan sekadar perubahan alat.
Ini perubahan paradigma. Pertanyaannya sekarang bukan ‘Apakah kita siap berubah?’ Tapi ‘Seberapa cepat kita mau beradaptasi?’

Narasi “bertahan atau tertinggal” yang diajukan Mas Bambang terasa terlalu menyederhanakan persoalan. Seolah dunia hanya memberi dua pilihan mutlak: ikut arus atau tenggelam. Padahal, sejarah membuktikan bahwa yang mampu bertahan bukan hanya yang paling cepat berlari, melainkan mereka yang sanggup menjaga keseimbangan.

Adaptasi tanpa refleksi hanya akan melahirkan kegamangan. Sementara itu, keteguhan tanpa keterbukaan akan membuahkan ketertinggalan.

Penggerak literasi hari ini memang berada di persimpangan jalan. Namun, persimpangan itu bukan soal memilih arah kiri atau kanan secara ekstrem. Persimpangan adalah ruang untuk menimbang, membaca arah angin, dan menentukan langkah dengan kesadaran penuh.

Kita tidak diminta meninggalkan masa lalu, melainkan belajar darinya. Kita pun tidak diminta menelan mentah-mentah masa depan, melainkan menyaringnya dengan bijak.

Ujian literasi yang sejati terletak pada ketangguhan akal dalam menyaring kegaduhan zaman, bukan sekadar kecepatan tangan menanggalkan yang lama demi mengejar yang baru.

Dan menyikapi hal itu, saya memilih berdiri di titik temu. Menatap masa depan dengan mata terbuka, sembari memastikan kaki tetap berpijak pada akar yang telah membesarkan kita. Pohon yang tumbuh menjulang ke langit hanya akan tegak jika akarnya menghujam kuat ke dalam bumi.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Dapatkan berita terbaru dan menarik melalui whatsapp channel InsertRakyat.com

⚡ WhatsApp Insertrakyat

Informasi, komunitas & layanan pembaca

GRUP WHATSAPP
▶ Gabung Grup Diskusi
SALURAN WHATSAPP
▶ Ikuti Saluran Resmi
KONTAK ADMIN
▶ Hubungi Admin
● ONLINE • 0813-5481-214