New York, InsertRakyat.com — Mezzo-soprano muda Indonesia Beatrice Jean Consolata Gobang melangsungkan debut solo resitalnya di Piano-Piano Theater, Manhattan, New York, Jumat malam, 13 Maret 2026. Resital bertajuk “Poetry, Roots, Resonance” itu menghadirkan kolaborasi musikalnya bersama pianis Ayunia Indri Saputro.
Malam dibuka dengan ekspresi keintiman zaman Barok melalui komposisi “Vittoria, mio core!” karya Giacomo Carissimi. Suasana hangat segera memenuhi ruang pertunjukan di Piano-Piano Theater.
Program resital yang berada di bawah arahan artistik Aning Katamsi ini menelusuri perjalanan musikal yang menghubungkan puisi, sejarah, dan ingatan budaya lintas abad. Repertoarnya merentang dari tradisi musik Barok hingga karya-karya modern dan lagu-lagu dari Indonesia.
Teks komposisi “Vittoria, mio core!” yang membuka resital berasal dari puisi karya Domenico Benigni, yang kemudian digubah oleh Carissimi (1605–1674), salah satu maestro musik Barok dari Mazhab Musik Romawi. Lagu ini menghadirkan kedalaman emosional sekaligus menyiratkan makna penebusan—“vittoria” sebagai simbol kemenangan atau kebebasan.
Program berlanjut dengan dua karya Wolfgang Amadeus Mozart (1756–1791), yakni “An Chloë” dan “Voi che sapete”. Yang terakhir merupakan aria dari opera “Le Nozze di Figaro” yang berlatar Spanyol pada akhir abad ke-18.
Vokal Beatrice kemudian berdialog selaras dengan permainan piano Ayunia saat memasuki dunia Lied Jerman, yang menjadikan puisi sebagai inti ekspresi musikal.
Beberapa karya yang dibawakan antara lain “Lachen und Weinen” karya Franz Schubert, “Schwanenlied” karya Fanny Mendelssohn-Hensel, “Herbstlied” karya Felix Mendelssohn, dan “Der Gärtner” karya Hugo Wolf.

Setelah menelusuri tradisi Eropa, arah musikal perlahan bergeser menuju Indonesia melalui tembang puitik “Setitik Embun” karya Mochtar Embut (1934–1973) dan “Cempaka Kuning” karya Sjafii Embut (1935–1987). Kedua karya ini menghadirkan keindahan puisi dan ekspresi musikal Indonesia kepada pendengar internasional.
Selepas jeda, resital membuka lanskap musikal yang lebih luas. Beatrice melantunkan “Tiga Sajak Pendek” karya Ananda Sukarlan (1968) dari puisi Sapardi Djoko Damono, yang berdampingan dengan melodi Prancis “Les chemins de l’amour” karya Francis Poulenc (1899–1963).
Di piano, Ayunia kemudian memainkan “Pagodes” dari Estampes karya Claude Debussy (1862–1918). Komposisi ini lahir dari kekaguman Debussy terhadap bunyi gamelan Jawa yang ia dengar di Paris pada akhir abad ke-19.
Program kemudian kembali pada akar tradisi Nusantara melalui lagu rakyat “Mana Lolo Banda” dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sebelum ditutup dengan sentuhan sederhana “Simple Gifts” karya komposer Amerika Aaron Copland (1900–1990).
Beatrice dan Ayunia menambahkan dua lagu pada sesi encore: “Le Violette” karya Alessandro Scarlatti (1660–1725) dan “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki (1914–1958).
Rangkaian repertoar ini menghadirkan perjalanan emosional dari berbagai akar tradisi hingga resonansi musikal yang hangat dan reflektif.
Bagi Beatrice, malam tersebut menandai langkah penting dalam perjalanan belajar dan artistiknya. Remaja kelahiran Jakarta ini sebelumnya tampil di panggung internasional Weill Recital Hall, Carnegie Hall, New York, pada Desember 2022, setelah meraih penghargaan dalam American Protégé International Competition dan Golden Classical Music Awards.
Pada Maret 2026, ia kembali tampil di Carnegie Hall sebagai First Prize Winner kategori vokal klasik dalam konser para pemenang Golden Classical Music Awards.
Perjalanan musik pelajar Kolese Gonzaga Jakarta ini dimulai sejak kecil melalui biola dan piano dengan metode Suzuki. Ia kemudian menekuni studi vokal di The Resonanz Music Studio Jakarta bersama mezzo-soprano Valentina Nova. Sejak 2021, ia melanjutkan pembinaan vokal bersama soprano dan pedagog Aning Katamsi, serta aktif sebagai anggota The Resonanz Children’s Choir sejak 2018. Ia juga mengikuti sejumlah masterclass vokal internasional.
Sementara itu, Ayunia merupakan pianis dan pendidik musik kelahiran Surabaya yang telah tampil di berbagai festival internasional, termasuk di Chan Centre for the Performing Arts.
Ia juga memenangkan sejumlah kompetisi, di antaranya Ananda Sukarlan Award International Piano Competition, Silverman Piano Concerto Competition, dan Indonesia International Piano Competition. Saat ini Ayunia menempuh studi doktoral bidang pedagogi dan pertunjukan piano di University of Michigan, Amerika Serikat.
Resital ini diselenggarakan sebagai bagian dari kerja kolaboratif HeartSongGift, sebuah gerakan budaya yang diinisiasi oleh Avanti Fontana untuk menumbuhkan warisan budaya melalui musik sekaligus mendukung perkembangan talenta muda.
Melalui program ini, HeartSongGift juga menjalin kemitraan dengan Pondok Baca Kampung Kabor di Maumere, Flores, sebagai bagian dari upaya berbagi dalam kegiatan literasi dan pendidikan musik bagi anak-anak.
Kolaborasi musikal dalam “Poetry, Roots, Resonance” ini menghadirkan lebih dari sekadar konser. Ia menjadi pengingat bahwa musik—yang lahir dari puisi dan ingatan budaya—dapat menjadi bahasa bersama yang membawa kenangan, rasa syukur, dan harapan akan keterhubungan antarmanusia dan generasi. Malam itu pun berakhir hangat di Manhattan.
(MUHAMMAD SUBHAN)





















