SETIAP Anak mengenal dunia melalui banyak jalan;. Anak mendengar cerita dari orang tua di rumah. Anak menyaksikan peristiwa di lingkungan sekitarnya setiap hari. Anak juga belajar memahami banyak hal melalui buku yang ia baca. Dari halaman demi halaman buku, anak menemukan informasi yang sebelumnya tidak ia ketahui misalnya dari jenis ikan hingga sejarah dan daerah — kota Tasik Misalnya.
Kegiatan membaca bermula dengan mengenal huruf dan kata. Membaca merupakan proses mengenal dunia pengetahuan. Ketika anak membuka buku, ia sedang membuka pintu menuju pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan.
Kebiasaan membaca biasanya lahir dari lingkungan terdekat anak. Rumah dan sekolah menjadi ruang pertama tempat anak berkenalan dengan buku. Anak yang tumbuh di rumah yang memiliki buku akan lebih sering memegang dan membuka buku. Orang tua yang meluangkan waktu membaca bersama anak membantu menumbuhkan rasa nyaman terhadap kegiatan membaca. Guru di sekolah kemudian melanjutkan proses tersebut dengan membimbing anak mengenal bacaan secara lebih terarah.
Proses belajar membaca berlangsung secara bertahap. Anak mulai dengan mengenal huruf. Setelah itu anak belajar menyusun huruf menjadi kata. Selanjutnya anak belajar membaca kalimat sederhana. Pada tahap awal biasanya digunakan buku bergambar agar anak lebih mudah memahami isi bacaan.
Di ruang kelas sekolah dasar sering ditemukan kalimat sederhana seperti “Ini Bapak Budi.” Kalimat tersebut digunakan untuk membantu anak memahami susunan kata. Dari kalimat sederhana itu anak mulai belajar mengenal hubungan antara huruf, kata, dan makna.
Kegiatan membaca memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Buku memuat berbagai informasi mengenai alam, manusia, sejarah, serta kehidupan sosial. Anak yang terbiasa membaca biasanya memiliki kosakata yang lebih luas dan kemampuan memahami informasi yang lebih baik.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia terdapat pemikiran penting dari Ki Hajar Dewantara. Pendidikan bertujuan memberikan pengetahuan hingga membentuk karakter dan budi pekerti. Pendidikan harus memperhatikan perkembangan intelektual sekaligus perkembangan moral peserta didik.
Ilmu pengetahuan memang memiliki peranan aktif dalam kehidupan manusia. Melalui ilmu pengetahuan seseorang dapat memahami berbagai persoalan kehidupan. Namun dalam inti pendidikan Indonesia, ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai adab. Adab mengajarkan cara bersikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan masyarakat juga terdapat berbagai norma yang mengatur perilaku manusia. Norma agama mengatur hubungan manusia dengan nilai spiritual. Norma kesopanan mengatur etika dalam pergaulan. Norma sosial mengatur hubungan antar anggota masyarakat. Sementara norma hukum memberikan aturan yang mengikat secara resmi dalam kehidupan bernegara.
Keberadaan norma-norma tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti sampai pengetahuan semata, namun lebih dalam kepada nilai-nilai moral yang menjadi pedoman dalam kehidupan bersama.
Pasca 1945 pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting. Setiap warga negara memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Ketentuan ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Negara juga mengatur sistem pendidikan melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan bertujuan memberikan pengetahuan akademik sekaligus membentuk kesadaran kebangsaan. Melalui pendidikan, generasi muda diharapkan memahami sejarah perjuangan bangsa serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap masa depan negara.
Anak yang tadi belajar membaca, rajin membaca, kelak tumbuh dewasa, sudah pasti dapat mengetahui satu hal penting, ialah Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan. Oleh karena itu, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan serta menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara, sekalipun ia tumbuh dari kalangan masyarakat sipil yang identik dengan beras raskin.
Semua manusia memiliki derajat yang sama, yang membedakan adalah prinsip dan kecintaannya terhadap literasi bangsa dan negara. Padahal, pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Rasa cinta dimaksud, kemudian berkembang menjadi kesadaran untuk menjaga dan membela negara. Kesadaran bela negara tidak selalu diwujudkan dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan salah satunya melalui literasi.
Terlepas dari satu sudut, terdapat inti Pendidikan kewarganegaraan, ini memiliki cakupan luas, baik menumbuhkan kesadaran; generasi muda untuk mengenal nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kesadaran bela negara mencakup beberapa unsur penting, antara lain kecintaan terhadap tanah air, [nilai-nilai] Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, kerelaan berkorban bagi bangsa dan negara, serta sikap dan perilaku yang mencerminkan semangat bela negara. “Basmi Korupsi.”
Selain itu, pendidikan juga mendorong kemampuan berpikir secara komprehensif dan integral. Kemampuan ini berarti seseorang mampu melihat suatu persoalan dalam kaitannya dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Dalam kehidupan berbangsa, cara berpikir yang komprehensif sangat diperlukan. Seseorang tak serta-merta hanya melihat suatu peristiwa dari sudut pandang pribadi atau kelompok tertentu, tetapi mempertimbangkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam literasi kebangsaan, ini juga berkaitan dengan kepemimpinan (Rolle Model). Kepemimpinan merupakan faktor paling utama dalam membawa suatu bangsa yang majemuk. Kepemimpinan pun, demikian tidak cukup dalam pemerintahan, tetapi lengkapnya juga terdapat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Moral sorang pemimpin dituntut memiliki kekuatan adab dan kewibawaan. Pemimpin juga harus memiliki visi yang jelas tentang masa depan. Visi tersebut menjadi arah bagi pembangunan dan kemajuan bangsa.
Pemimpin yang baik mampu mempersatukan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda. Dalam negara yang berlandaskan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bersama. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kepemimpinan nasional telah diatur dalam konstitusi dan peraturan perundang – undangan. Mekanisme yang tetap ini, berlangsung dalam siklus lima tahunan sebagai bagian dari sistem demokrasi.
Proses demikian bertujuan memastikan bahwa pergantian kepemimpinan berlangsung secara tertib, teratur, dan sesuai dengan prinsip hukum. Sistem ini menjadi bagian dari mekanisme yuridis formal dalam penyelenggaraan negara.
Selain memahami sistem pemerintahan, generasi muda juga perlu memahami konsep wawasan kebangsaan. Salah satu konsep dalam kehidupan berbangsa di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya sebagai satu kesatuan. Konsep ini lahir dari kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di antara dua samudra dan dua benua.
Melalui Wawasan Nusantara, bangsa Indonesia memandang wilayah darat, laut, dan udara sebagai satu kesatuan yang utuh. Konsep ini juga menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan nasional yang berkaitan dengan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Seluruh proses pendidikan kembali bermula dari hal yang sederhana. Anak yang membuka buku sedang memulai perjalanan panjang menuju pengetahuan. Dari kegiatan membaca, anak belajar memahami dunia. Dari pengetahuan yang diperoleh, anak membentuk cara berpikir. Dari cara berpikirnya itulah lahir sikap dan tindakan dalam kehidupan masyarakat.
Pengetahuan yang diperoleh melalui membaca menjadi bekal tak ada habisnya, bagi masa depan. Harta benda dapat berkurang atau hilang, tetapi pengetahua akan tetap melekat dalam diri seseorang. Pengetahuan dapat digunakan sepanjang hidup dan dapat pula dibagikan kepada orang lain melalui pendidikan dan pengalaman. Berbagai berarti membuka diri untuk mengetahui dan menerima hal – hal yang bermanfaat.
Karena itu, kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak usia dini. Dari halaman pertama buku, masa depan anak mulai ditulis. Pengetahuan yang tumbuh dari kebiasaan membaca sudah barang tentu membentuk kecerdasan individu, sekaligus membangun kesadaran kebangsaan yang menjadi dasar bagi masa depan suatu bangsa. Awasi MBG!.










