BENAR, di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia, selalu ada dua jenis pemimpin. Pertama, mereka yang banyak berbicara tentang kerja. Kedua, mereka yang bekerja tanpa banyak bicara. AKBP Harry Azhar tampaknya berada pada golongan yang kedua.

Namanya memang tidak dibangun oleh gemuruh pencitraan. Ia tumbuh dari rangkaian penugasan yang dijalani dengan disiplin, dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab berikutnya. Kini, ia kembali ke pusat, mengemban amanah sebagai Kanit 1 Satresmob Bareskrim Polri. Sebuah posisi yang tidak ringan, dan tentu saja tidak diberikan tanpa alasan.

Penugasan itu ditetapkan melalui Surat Telegram Kapolri tertanggal 15 Desember 2025. Di balik surat itu, tersirat satu hal yang sederhana: institusi membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk bekerja.

Sebelum itu, ia memimpin Polres Sinjai. Wilayah yang tidak selalu tenang, tetapi juga tidak pernah kehilangan harapan untuk ditata. Di sana, Harry Azhar tidak mencoba menjadi sosok yang luar biasa. Ia hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Namun justru dari situ, hasilnya terlihat.

BACA JUGA :  Warga Kota Parepare Curhat di Cenderawasih, Polisi Ingatkan Denda Rp5 Miliar Jika Membakar

Pilkada 2024 berjalan aman. Tidak ada kegaduhan yang berarti. Tidak ada ketegangan yang berlebihan. Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap biasa. Padahal, menjaga sesuatu tetap normal dalam situasi yang rawan justru adalah pekerjaan yang paling sulit.

Di bidang internal, Polres Sinjai meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). Penghargaan itu penting, tetapi bukan yang utama. Sebab, sebagaimana pernah disampaikan Harry Azhar, rasa aman masyarakat jauh lebih berarti daripada sekadar piagam yang dipajang di dinding kantor.

Ia tampaknya memahami satu hal yang sering dilupakan: kepercayaan publik tidak dibangun dari seremoni, melainkan dari konsistensi.

Dalam keseharian, pendekatannya juga tidak berubah. Ia turun langsung ke masyarakat. Tidak dengan jarak, tidak pula dengan protokol yang berlebihan. Program seperti Jumat Berkah berjalan tanpa banyak publikasi. Tetapi masyarakat merasakannya.

BACA JUGA :  Kian Menarik dan Hangat! Inilah Fakta Seputar Polres Sinjai, Simak Penjelasan Kapolres AKBP Harry Azhar

Di sisi lain, ia juga tidak menutup diri dari kritik. Baginya, kritik bukan ancaman. Ia menyebutnya sebagai “vitamin”. Kalimat yang sederhana, tetapi cukup untuk menggambarkan cara pandangnya terhadap kekuasaan: bukan sesuatu yang harus dijaga dari suara luar, melainkan sesuatu yang harus terus diuji.

Pendekatan ini mengingatkan pada prinsip lama dalam kepemimpinan kepolisian: semakin tinggi jabatan, semakin kecil alasan untuk bersikap berjarak.

Di bawah kepemimpinannya, pembinaan personel juga berjalan. Kenaikan pangkat tidak sekadar menjadi rutinitas administratif, tetapi bagian dari penghargaan atas kerja. Ini penting, karena institusi yang kuat tidak hanya dibangun oleh satu orang, tetapi oleh banyak orang yang diberi kesempatan berkembang.

Kini, di Mabes Polri, tantangannya berbeda. Skala pekerjaan lebih besar, tekanan lebih tinggi, dan ekspektasi publik semakin luas. Salah satu ujian awal terlihat dalam pengungkapan kasus peredaran uang palsu menjelang Idul Fitri 2026. Operasi itu berjalan senyap, tetapi hasilnya jelas.

BACA JUGA :  Patut Dicontoh dan Disyukuri, Kapolres Sinjai Harry Azhar Borong Dagangan Ibu Penjual Camp Kecil

Dari informasi masyarakat, bergerak ke penyelidikan, hingga penggerebekan di Purwakarta—semua menunjukkan bahwa kerja kepolisian yang baik tidak selalu membutuhkan sorotan. Yang dibutuhkan adalah ketepatan.

Dalam banyak kesempatan, Harry Azhar tidak banyak memberi pernyataan panjang. Ia memilih singkat. Pernah ia mengatakan bahwa dirinya hanya “manusia biasa yang menggenggam amanah luar biasa.” Kalimat itu tidak terdengar hebat. Tetapi justru karena itu, ia terasa jujur.

Pada akhirnya, kepemimpinan memang bukan soal seberapa keras seseorang berbicara, melainkan seberapa tenang ia bekerja.

Dari Sinjai ke Mabes Polri, jejak AKBP Harry Azhar tidak ditandai oleh lonjakan yang mencolok. Namun justru di situlah letak kekuatannya: konsisten, terukur, dan tidak berlebihan.

Dan mungkin, dalam dunia yang semakin bising, model kepemimpinan seperti inilah yang masih diperlukan.

(Ulasan Muhammad Subhan penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis).