Oleh Muhammad Subhan
GURU-GURU hebat tak kurang di Indonesia. Sekolah-sekolah dengan gedung mewah tak sedikit pula. Gizi siswa juga tercukupi. Tapi tingkat literasi dan numerasi masih rendah. Apa yang kurang dan yang harus diperkuat?
Kompas.id edisi Kamis, 9 April 2026, menurunkan berita berjudul “Pemerintah Akui Tingkat Literasi dan Numerasi Masih Rendah”. Hal itu tergambar dalam skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 yang mengalami penurunan di semua bidang, yakni literasi membaca (359 poin), matematika (366 poin), dan sains (383 poin).
Secara keseluruhan, Indonesia memperoleh skor 369 poin.
Selain itu, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai tingkat kecakapan minimum dalam membaca dan 18 persen dalam matematika. Padahal, kompetensi literasi dan numerasi dasar merupakan prasyarat bagi kesiapan generasi muda menghadapi dinamika global.
Menyikapi itu, pemerintah berupaya memfokuskan penguatan literasi dan numerasi sejak sekolah dasar sebagai fondasi utama kemampuan membaca, menulis, dan berpikir.
Namun, jika ditelisik lebih dalam, rendahnya tingkat literasi dan numerasi kita jelas tidak lahir dari satu sebab tunggal. Ia merupakan akumulasi dari persoalan struktural yang telah lama mengendap dalam sistem pendidikan.
Rendahnya skor PISA di tengah mulai terpenuhinya fasilitas fisik dan dukungan logistik menunjukkan bahwa persoalan pendidikan kita bukan semata soal gedung sekolah, ruang kelas nyaman, atau program makan bergizi gratis. Masalah sesungguhnya berada pada wilayah yang lebih mendasar: kualitas proses belajar, kultur berpikir, dan ekosistem intelektual yang belum tumbuh sehat.
Kita masih terjebak dalam budaya literasi yang seremonial. Buku diperlakukan sebagai atribut kegiatan, bukan sebagai alat berpikir. Sekolah ramai menggelar lomba membaca, pojok literasi, atau gerakan membaca lima belas menit, tetapi sering gagal menjadikan membaca sebagai kebiasaan intelektual yang hidup. Banyak siswa mampu membaca teks, tetapi tidak mampu menangkap substansi di balik teks. Mereka bisa melafalkan paragraf, namun gagap saat diminta menafsirkan argumen, menarik simpulan, atau menghubungkan bacaan dengan realitas.
Di ruang kelas, persoalannya tak kalah serius. Pembelajaran kita masih terlalu berorientasi pada penuntasan materi, bukan penguasaan konsep. Guru didorong mengejar target kurikulum, bukan memastikan setiap anak benar-benar memahami apa yang dipelajarinya. Numerasi akhirnya direduksi menjadi hafalan rumus. Literasi dipersempit menjadi kemampuan menjawab soal bacaan. Yang lahir bukan pembelajar kritis, tetapi penghafal yang terlatih.
Padahal, inti kemampuan numerasi bukanlah mengingat formula, tetapi menggunakan logika untuk menyelesaikan masalah.
Begitu pula literasi bukan sekadar membaca kata demi kata, melainkan memahami konteks, menimbang informasi, lalu memungut esensi secara kritis. Selama pembelajaran masih berjalan satu arah. Guru menerangkan, siswa mencatat, lalu menghafal. Maka, sulit berharap skor PISA akan membaik.
Di luar sekolah, tantangan lain datang dari perubahan budaya informasi. Generasi hari ini tumbuh dalam banjir konten digital yang serba cepat. Mereka akrab dengan video pendek, teks singkat, dan informasi instan. Akibatnya, daya tahan mereka untuk membaca teks panjang dan mencerna gagasan kompleks terus menurun. Budaya scrolling perlahan menggantikan budaya membaca mendalam.
Masalahnya, sekolah belum cukup adaptif menghadapi perubahan ini. Digitalisasi pendidikan sering hanya ditafsirkan sebagai pemindahan materi ke layar, bukan transformasi cara belajar. Gawai hadir di kelas, tetapi tidak diiringi strategi pedagogis yang menjaga fokus dan kedalaman berpikir. Teknologi akhirnya lebih sering menjadi distraksi ketimbang alat belajar.
Persoalan berikutnya adalah rendahnya relevansi pembelajaran dengan realitas. Matematika masih diajarkan secara terisolasi dan abstrak. Anak-anak mampu menghitung persentase, namun gagap saat harus mengalkulasi aspek finansial riil seperti bunga kredit atau nilai inflasi. Mereka mempelajari statistik tanpa dibekali kemampuan untuk mendekode narasi di balik data yang bertebaran di media. Demikian pula literasi, siswa sekadar membaca untuk menuntaskan kurikulum, bukan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk membedakan fakta dari disinformasi di tengah riuhnya jagat digital.
Pendidikan akhirnya terjebak menjadi aktivitas akademik yang steril dari kehidupan. Anak belajar untuk menjawab soal, bukan untuk memahami dinamika kehidupan.
Di tengah persoalan itu, guru sebagai ujung tombak pembelajaran justru dibebani pekerjaan administratif yang berlebihan. Bejibun. Banyak guru berkualitas, tetapi energi mereka habis untuk mengisi aplikasi, menyusun laporan, mengunggah dokumen, dan memenuhi berbagai tuntutan birokrasi. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca referensi, merancang pembelajaran kreatif, atau mendampingi siswa secara personal justru terkuras di meja administrasi.
Akibatnya, banyak guru mengajar sekadarnya. Berbasis buku teks. Mengikuti pola aman. Tidak sempat mendalami materi, apalagi berinovasi. Padahal, literasi dan numerasi tumbuh dari ruang kelas yang hidup, dari dialog yang tajam, dari guru yang hadir sepenuhnya sebagai intelektual pembelajar.
Karena itu, pembenahan tidak bisa dilakukan secara kosmetik. Kita membutuhkan perubahan paradigma.
Kurikulum harus diarahkan kembali pada penguatan logika kontekstual, bukan hafalan mekanis. Anak-anak perlu dibiasakan membaca lingkungan di sekitar mereka sebagai bahan belajar. Soal matematika harus dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tugas membaca harus menuntut analisis, bukan sekadar rangkuman. Siswa harus dilatih menulis argumen, menyusun pendapat, menafsirkan data, dan memecahkan masalah nyata di lingkungan mereka.
Budaya membaca mendalam pun harus dibangun serius. Sekolah perlu menyediakan ruang bagi siswa untuk berinteraksi dengan bacaan panjang, berdiskusi, menulis refleksi, dan melatih konsentrasi tanpa gangguan gawai. Membaca tidak boleh berhenti sebagai ritual lima belas menit sebelum pelajaran, tetapi harus menjadi kebiasaan intelektual yang hidup di seluruh ekosistem sekolah.
Model evaluasi juga harus berubah. Selama ujian masih didominasi pilihan ganda yang hanya mengukur daya ingat, siswa tidak akan pernah terdorong berpikir mendalam. Sistem penilaian harus memberi ruang lebih luas bagi esai analitis, proyek riset kecil, presentasi argumentatif, dan penyelesaian masalah berbasis data.
Perpustakaan sekolah pun sudah waktunya direvitalisasi. Perpustakaan tak boleh lagi sekadar menjadi ruang simpan statis atau pelengkap akreditasi. Perpustakaan harus menjadi jantung intelektual sekolah. Ruang tempat siswa membaca, berdiskusi, membedah teks, menafsirkan data, dan melakukan riset kecil. Pustakawan pun harus diposisikan sebagai mitra guru dalam membangun budaya literasi, bukan sekadar penjaga rak.
Namun, sebesar apa pun pembenahan di sekolah, literasi tidak akan tumbuh optimal bila berhenti di pagar sekolah. Rumah dan lingkungan sosial harus ikut menjadi ekosistem pembentuk budaya baca. Percuma guru mendorong siswa membaca jika di rumah anak tidak pernah melihat orang tuanya menyentuh buku. Percuma sekolah membangun perpustakaan jika lingkungan sekitar lebih memuliakan gawai daripada pengetahuan.
Rendahnya literasi dan numerasi bukan cermin ketidakmampuan siswa semata. Potret itu cermin dari sistem pendidikan yang terlalu lama sibuk pada formalitas, tetapi kurang serius membangun substansi. Kita membanggakan gedung, tetapi lupa menghidupkan ruang pikir di dalamnya. Kita rajin membuat program, tetapi abai memastikan dampaknya. Kita sibuk mengurus administrasi, tetapi lupa menumbuhkan nalar.
Makan bergizi gratis adalah investasi fisik yang baik. Tetapi tanpa gizi intelektual berupa pembelajaran mendalam, budaya membaca, dan latihan bernalar, kita hanya akan menghasilkan generasi yang sehat tubuhnya, tetapi lemah daya pikirnya.
Jika pendidikan adalah jalan menuju kemajuan bangsa, maka literasi dan numerasi adalah fondasinya. Dan fondasi tidak akan pernah kokoh jika yang dibangun hanya tampilan luarnya.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Dapatkan berita menarik secara berkelanjutan dengan bergabung di saluran WhatsApp Insertrakyat.com> (whatsapp channel) atau akun Facebook dan lainnya seperti IG – Tiktok.
















