Oleh Muhammad Subhan

SEBELUM menanggapi tulisan usang yang dibagikan kembali oleh Sastrawan Agung Adiluhung Sunlie Thomas Alexander di laman Facebook-nya—yang merespons esai saya beberapa tahun lampau—saya dahulukan menanggapi tulisan kedua Romyan Fauzan (RF) berjudul “Perihal Nama dan Sebagainya” yang ia bagikan di laman Facebook-nya, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam tulisannya itu, bagian alinea pembukanya saja sudah keliru.

RF menulis: “Bangga juga ketika dalam tulisannya, Muhammad Subhan menyandingkan nama saya dengan kata “komedi”, menjadi Romyan Fauzan Komedi dan menyarankan untuk stand-up comedy yang istilah lainnya adalah monolog, yang tentu menjadi bagian dari sastra.”

Kalau dicermati lebih teliti—dan RF tidak teliti—frasa “Romyan Fauzan Komedi” di tulisan RF tentu berbeda pengertian dari frasa “Komedi Romyan Fauzan” seperti yang saya sematkan pada judul esai saya: “Pertemuan Sastra, Ongkos, dan Komedi Romyan Fauzan”. Dalam frasa “Romyan Fauzan Komedi”, unsur yang Diterangkan (inti) adalah “Romyan Fauzan” (nama orang), sedangkan “Komedi” adalah unsur yang Menerangkan (penjelas). Frasa ini bermakna sesosok individu bernama Romyan Fauzan yang diidentifikasi, dicirikan, atau bergerak di bidang komedi. Fokus utamanya adalah sang persona atau figur itu sendiri.

Sementara dalam “Komedi Romyan Fauzan”, sebaliknya, unsur yang Diterangkan (inti) adalah “Komedi” (genre, konsep, atau bentuk seni), sementara “Romyan Fauzan” menjadi unsur yang Menerangkan. Frasa ini merujuk pada sebuah entitas komedi, gaya humor, lawak, atau pertunjukan khas yang dimiliki atau diciptakan oleh Romyan Fauzan. Saya mengidentifikasikan tulisan RF tersebut nadanya memang lawak; lucu. Karena lucu, saya gembira dan terhibur. Dan, RF sudah berhasil bikin saya tertawa.

Karena dari pembuka saja konstruksi bahasanya sudah keliru, bagaimana RF bisa memberikan pemahaman lain yang lebih logis terhadap topik seni yang ia ulas? Meskipun, ia mengaku pernah bersinggungan langsung dengan dunia komedi dalam 120 episode Preman Pensiun (1, 2, dan 3) serta ikut beberapa pementasan bersama Laskar Panggung Bandung dan lain-lain. Pengalaman empiris di lapangan kreatif nyatanya tidak otomatis membuat seseorang runtut dalam berlogika di ruang teks.

Tapi baiklah, kita tilik juga narasi RF berikutnya: “Ketidaktahuan Subhan terhadap bagaimana komedi menjadi titik penting dalam dunia sastra, drama khususnya membuka tabir bahwa memang membaca itu penting daripada menulis. Sehingga tulisan tentang komedi seperti direndahkan, karena ketidaktahuan itu.”

BACA JUGA :  Pak Menteri, Pak Gubernur, Kami Ini Sudah Capek Miskin

Nah, di titik ini RF bertambah lawak. Apakah orang yang terhibur karena sebuah kelucuan lalu otomatis disebut merendahkan karya tersebut?

Logika semacam ini justru memutarbalikkan esensi komedi itu sendiri. Ketika sebuah tulisan atau pertunjukan komedi berhasil memicu tawa, itu adalah bukti keberhasilan fungsi estetiknya—terlepas dari apakah tulisan RF itu sebuah karya sastra atau bukan—bukan sebuah penistaan. Tergesa-gesa menuduh bahwa menertawakan atau menganggap jenaka sebuah komedi sebagai bentuk “merendahkan” adalah sebuah kesesatan berpikir (fallacy). Menertawakan komedi adalah bentuk apresiasi paling jujur. Jika komedi harus selalu didekati dengan kening berkerut, khidmat yang kaku, dan keseriusan akademis agar dianggap “dihargai”, maka ia telah kehilangan ruhnya dan berubah menjadi tragedi yang dipaksakan. RF tampaknya gagal membedakan antara tawa apresiatif dengan tawa ejekan.

Apakah meninggikan derajat komedi seseorang justru harus dilakukan dengan berhenti tertawa dan mulai menangisinya? Apakah seorang penulis komedi akan merasa terhormat jika pembacanya merenung seharian penuh dengan wajah muram tanpa seulas senyum pun? Tentu tidak!

Komedi justru menuntut kecerdasan tingkat tinggi untuk melihat paradoks kehidupan dan mengemasnya menjadi sesuatu yang renyah. Respons alami berupa tawa dari pembaca justru membuktikan bahwa sebuah karya berhasil menyembunyikan kompleksitas strukturnya di balik selimut penyampaian yang santai.

Lagipula, jika membaca dianggap jauh lebih penting daripada menulis hanya karena persoalan ini, maka RF sedang terjebak dalam lingkaran setan yang konyol. Tanpa adanya keberanian untuk menulis—termasuk menulis tulisan bernada komedi yang dilakukan RF—lalu apa yang tersisa untuk dibaca dan dinilai oleh para kritikus? Menulis dan membaca adalah dua keping koin yang tak terpisahkan dalam ekosistem literasi.

Menilai kualitas pemahaman seseorang terhadap sastra hanya dari bagaimana mereka merespons sebuah komedi secara kasat mata adalah penyederhanaan yang gegabah. Komedi tidak menjadi rendah hanya karena ia mudah dicerna dan mengundang tawa. Ia justru menjadi adiluhung karena mampu membuat hal yang rumit terdengar begitu sederhana hingga orang awam pun bisa menikmatinya. Tapi sayangnya, narasi komedi yang disuguhkan RF itu cacat logika, sehingga perlu saya respons kembali.

Dan, perhatikan kalimatnya yang lain: “Karena faktanya memang yang Subhan pelajari masih Sejarah Sumpah Pemuda dan Sidang BPUPKI yang ia dapat di SMA, dan kebenarannya pun harus diuji. Padahal kalaupun mau membahas tentang pertemuan-pertemuan penting, di mana muncul gagasan-gagasan besar, bisa mengambil sejarah sastra ketika Chairil, HB. Jassin, Idrus, Baharudin (pelukis), Utuy, Achdiat, dan banyak lagi berkumpul di Kantor Balai Pustaka untuk memperjuangkan Indonesia melalui seni dan sastra.”

BACA JUGA :  Sudah Tujuh Tahun Kami Bergerak, Tak Ada Sesuatu yang Membuat Kami Kuat

Bukankah yang RF pertanyakan adalah seperti apa pertemuan besar yang menghasilkan gagasan besar? Mengapa RF mendadak gagap dan alergi ketika sejarah politik-kebangsaan seperti Sumpah Pemuda dihadirkan sebagai pembanding? Apakah sejarah sastra kita berdiri steril di ruang hampa, terisolasi dari pergolakan sosiopolitik di luarnya?

Taruhlah peristiwa Sumpah Pemuda 1928 itu. Walau produk akhirnya berupa ikrar politik-kebangsaan, teks monumental tersebut lahir dari kedalaman rasa seorang penyair dan pelopor puisi modern Indonesia, Mohammad Yamin. Pilihan diksi estetis “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” tidak datang dari kepala seorang politisi murni, melainkan dari intuisi seorang sastrawan yang memahami magisnya bahasa.

Jika RF butuh preseden lain yang lebih spesifik, mari kita tengok sejarah polemik kebudayaan tahun 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, atau perdebatan sengit seputar Manifesto Kebudayaan (Manikebu) dan Lekra di era 1960-an. Pertemuan dan pergesekan gagasan besar di sana tidak pernah sekadar membicarakan teknik menulis atau keindahan teks di atas meja kopi Balai Pustaka, melainkan perdebatan mendasar tentang ke mana arah ideologi, politik, dan kebudayaan bangsa ini hendak dibawa. Sastra menjadi besar justru karena ia berani keluar menjamah dan merespons realitas sejarah bangsanya. Ada paham RF di situ?

RF menulis lagi: “Freud bilang bahwa ketika ego dan ide tidak sinkron, akan terjadi penyakit yang timbul dengan tidak disangka-sangka, dalam hal ini mengalami gangguan neurosa. Ego Subhan terlampau tinggi karena berada di dunia luar hingga ide yang ada di dalam dirinya tidak terserap dengan baik, tidak berpijak di bumi dan itu bahaya bagi kesehatan mental.”

RF yang menyeret-nyeret nama Sigmund Freud untuk mendiagnosis “gangguan neurosa” dalam sebuah perdebatan teks tampaknya melangkah terlalu jauh, sekaligus mempertontonkan kegagalan mendasar dalam memahami psikoanalisis itu sendiri.

Pertama, RF sejak awal sudah rancu dan salah kaprah dalam mengeja sekaligus memahami aparatus psikis Freudian. Freud tidak pernah membenturkan ego dengan ide (gagasan), melainkan menempatkan ego (kesadaran/prinsip realitas) sebagai penengah dinamis antara id (dorongan instingtif/bawah sadar) dan superego (moralitas/aturan sosial). Menuduh seseorang mengalami neurosis hanya karena egonya aktif di “dunia luar” dan “ide di dalam diri tidak terserap” adalah sebuah kerancuan konseptual yang fatal dan asal usulnya tidak akan ditemukan dalam literatur psikologi mana pun.

BACA JUGA :  Menelisik Perda Sumbar Nomor 2 Tahun 2023: Di Mana Posisi Sastra?

Jika kita gunakan logika terbalik dari premis keliru RF tersebut: jika orang yang aktif di “dunia luar” (berdialektika, menggerakkan kantong literasi, dan menghadapi realitas sosial) dituduh memiliki ego yang terlampau tinggi hingga tak berpijak di bumi, maka sebaliknya, manusia yang ideal dan sehat mental menurut versi RF adalah mereka yang mengurung diri di dalam tempurung pikiran sendiri, menolak bersentuhan dengan realitas luar, dan membiarkan kesadarannya ditenggelamkan oleh dorongan irasional bawah sadar (id). Padahal, dalam klinis psikologi, tindakan mengisolasi diri secara total dari kenyataan objektif dan terjebak dalam delusi internal justru merupakan gerbang menuju gangguan psikologis yang jauh lebih berat.

Kedua, kesehatan mental seorang penulis justru diuji dari ketangguhan ego-nya untuk menjembatani gagasan teoretis di dalam kepala dengan realitas konkret di lapangan. Ketika seorang penulis terus konsisten memproduksi karya—yang lahir dari proses pembacaan yang panjang—sekaligus ikut merawat ekosistem literasi di dunia nyata, ia sedang mempraktikkan apa yang disebut Freud sebagai sublimasi. Yaitu, sebuah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang paling sehat, matang (mature), dan produktif, di mana energi psikis dialihkan menjadi tindakan kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Maka, narasi RF yang menyebut aktivitas di dunia luar sebagai penyebab “ide tidak berpijak di bumi” adalah sebuah ironi yang menggelitik. Bagaimana mungkin seseorang yang berhadapan langsung dengan manusia dan realitas sosial disebut tidak berpijak di bumi? Sebaliknya, seorang seniman seperti RF yang hanya bersandar pada kutipan-kutipan teori yang dicomot secara keliru, tanpa mau menguji teorinya pada realitas empiris masyarakat, dialah yang sebenarnya sedang melayang-layang di awang-awang utopia teks.

Bahaya intelektual yang sesungguhnya bukan datang dari kesadaran yang aktif merespons dunia luar, sebaliknya dari keputusasaan akademis yang gemar memproduksi kecemasan dan diagnosis buatan di atas kertas demi menutupi kerapuhan argumennya sendiri.

Lalu, siapa yang sedang memelihara ego semu yang sesungguhnya? []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis